Social Icons

Pages

Hamzah Sangadji Optimis Melenggang ke Senayan

Hamzah Sangadji Optimis Melenggang ke Senayan
Ir. Hamzah Sangadji (Tengah ) Saat Bertapa Muka dengan Kader Perindo Se-Maluku di Kantor DPW Perindo Maluku di Ambon, Jumat (01/02). Foto Malukunews.co




Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPR RI dari Partai Perindo untuk Dapil Maluku nomor urut 1, Ir. Hamzah Sangadji, optimis bakal melenggang mulus masuk ke senayan. Optimisme Sangadji ini menyusul adanya dukungan kuat dari masyarakat Maluku.

“Dukungan saya di masyarakat riil. Bahkan mereka selama ini saya selalu jaga dan merawatnya. Itulah salah satu modal yang saya miliki. Untuk itu saya cukup percaya diri untuk bisa meraih kursi parlemen pada Pemilu kali ini,” ujar Sangadji yang juga adalah Koordinator Wilayah Maluku dan Maluku Utara DPP Partai Perindo saat bertatap muka dengan seluruh kader Perindo Maluku di kantor DPW Partai Perindo di Ambon, yang didampingi Ketua DPW Partai Perindo Maluku, M. Isa Raharusun dn Sekretarisnya, Jumat, sore, kemarin.

Dalam pertemuan bersama itu, Sangadji menyemangati para Caleg Perindo kota/kabupaten dan Maluku untuk bekerja keras, bahu-membahu merebut kursi parlemen di berbagai tingkatan. “ Jika Perindo memiliki kursi signifikan di parlemen, maka partai Perindo tentu dihargai dan dihormati oleh kawan maupun lawan. Jadi marilah kita semua bekerja keras untuk meraih kemenangan Perindo itu,” ujar Sangadji dengan penuh semangat.

Sangadji yang juga mantan anggota DPR RI dari Partai Golkar untuk Dapil Maluku ini, mengaku sudah terbiasa dengan proses politik seperti ini. “ Simpul-simpul saya yang ada di seluruh kota dan kabupaten di Maluku hingga saat ini masih utuh dan solid. Mereka siap saya gerakkan kapan saja. Basis saya terutama di Maluku Tengah sangat solid. Setiap saya mencalonkan diri menjadi DPR RI, suara saya di Maluku Tengah tidak turun dari 30 ribu suara. Dukungan suara dari Buru, Kota Ambon dan SBB, juga tidak kalah banyaknya saat itu. Jadi saat saya bertemu para pendukung itu, mereka sudah menyatakan siap untuk memenangkan saya dan partai Perindo,” ujar putera asal Desa Rohumoni ini. 


Sumber : malukunews.co

Hamzah Sangadji Calon Anggota DPR RI Dari Partai Perindo Dapil Maluku

Nama Hamzah Sangadji, politisi kawakan ini tak asing lagi terdengar di telinga masyarakat Maluku. Kiprahnya yang malang-melintang di dunia politik membuat ia kenal banyak orang.

Hamzah Sangadji yang biasa dipanggil HS, putera Negeri Rohmoni, Maluku Tengah ini, kini bertekad maju bertarung di Pemilu Legislatif (Pileg) 2019 DPR RI dari partai Perindo untuk Dapil Maluku, nomor urut 1. HS pun optimis di Pileg 2019 mendatang, partai Perindo bakal menyumbangkan satu kursi dari Maluku untuk DPR RI.

Optimisme HS ini ada benarnya, mengingat saat ini, partai Perindo di Maluku sedang gencar-gencarnya melakukan sosialisasi secara merata disuluruh kabupaten dan kota .

HS resmi bergabung ke Partai Persatuan Indonesia (Perindo) pimpinan Hary Tanoesoedibjo (HT) dan ditunjuk sebagai Koordinator Daerah Pemilihan (Koordapil) Maluku-Malut.

Seperti dalam keterangannya kepada pers beberpa waktu lalu, HS menjelaskan, keputusan untuk bergabung dengan Perindo tidak memiliki alasan politik apapun, selain tetap konsisten terhadap platform perjuangan partai yang inheren dengan konsep Negara. Apalagi misi politik Perindo untuk membangun kesejahteraan masyarakat.

hamzah sangadji

Profil singkat Hamzah Sangadji

  • Nama Lengkap : Ir. Hamzah Sangadji
  • Tempat/Tgl Lahir : Ambon, 03-April-1964
  • Agama : Islam
  • Isteri : Lita Karyanis, SH
  • Anak : 6 orang
  • Asal : Desa Rohmoni, Maluku Tengah


Sekolah:

  • SD Kabau/Rohmoni, Malteng (1976)
  • MTs Tulehu, Malteng (1980)
  • SMPPN Ambon (1983)
  • S1 Unpati Ambon (1991)


Kursus/Diklat:

  • TARPADNAS Menpora, 1993
  • Penataran Bela Negara Menpora Indonesia 1993
  • Lemhanas Pemuda 1996
  • Manggala BP7 Pusat 1997
  • Penataran P4 Menpora


Riwayat Organisasi :

  • DPP HMI Ketua 1985-1987
  • DPP KNPI Ketua 1993-1996
  • DPP KNPI Ketua 1999-2001
  • 1997-1999 DPP AMPI, Ketua 1997-1999
  • DPP Partai Golkar Wakil Sekjen 2001-2004
  • Korwil Partai Perindo Maluku, Maluku Utara (2018- sekarang)
  • Caleg DPR RI Partai Perindo Dapil Maluku 2019


Sumber : malukunews.co

Hasil Sementara Pilgub Maluku “BAILEO” Unggul Telak di BURU

Hasil Sementara Pilgub Maluku “BAILEO” Unggul Telak di BURU
sumber img : Lelemuku.com

NAMLEA 28 Juni 2018. Hasil sementara pemilihan Gubernur – Wakil Gubernur Maluku 2018, pasangan Murad Ismail-Barnabas Orno unggul di Kabupaten Buru. Dari data sementara yang masuk di posko tim paslon BAILEO hingga pukul 18.00 WIT tercatat BAILEO 65.58% dan SANTUN 25,26%. Dan HEBAT 9.06%. Sementara hasil input data yang masuk di War Room Paslon BAILEO mencapai 95,11%.

Dari data hasil tabulasi perolehan suara masing-masing paslon masih terus bergerak dengan selisi yang sangat jauh. Begitu juga misalnya perolehan suara TPS dalam kota namlea selisih antara paslon terlalu jauh atau mencolok.

Khusus untuk TPS di kecamatan fena leisela hampir pasti hingga pukul 18.00 WIT belum seluruhnya masuk karna jarak untuk menjangkau dataran danau rana harus ditempuh 3-4 jam dan ada yang tidak bisa diakses melalui jaringan telephon seluler, demikian pula beberapa TPS yang berada di Kecamatan Lolong Guba. 

Ketua Tim Pemenangan Paslon BAILEO Buru A.  Aziz Hentihu mengatakan, dengan data perolehan yang masuk ini sudah pasti untuk Kabupaten Buru Paslon BAILEO menang mutlak dengan perbedaan angka perolehan suara yang terpaut sangat jauh dari lawan-lawanya.

Sekitar pukul 16.00 WIT, pendukung Paslon BAILEO dengan claim telah mengantongi suara mayoritas 65,55% suara sudah melakukan pawai kemenangan dalam kota namlea. Dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat, masa pendukung Paslon BAILEO mengelilingi kota namlea sambil bersorak-sorak kemenangan.

Menurut masa yang kami jumpai mereka menyatakan pertarungan pilkada maluku sudah selesai. “kami mengclaim bahwa paslon BAILEO menang berdasarkan data yang masuk di Kabupaten Buru maupun data yang terapdate di posko pemenangan BAILEO di Ambon, serta hasil QuikCount beberapa lembaga survey nasional yang memposisikan paslon BAILEO menang pilkada Maluku dengan presentase diatas 40. 99% suara. ( S-31)

Alexander Litaay, Antara Kesetiaan dan Penghianatan

alexander-litaay
Alexander Litaay adalah seorang politisi sejati. Lahir di Ambon pada 1 Oktober 1948 dan meninggal di Zagreb, Kroasia, 26 Juni 2016 pada umur 67 tahun. Pada tahun 1969, Alexander menjadi anggota Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Ambon tahun 1969 dan masuk Parkindo Maluku dua tahun kemudian. Jabatan Wakil Ketua BPC GMKI Ambon (1974-1976) dan Sekretaris PP GMKI Regional Maluku dan Irian Jaya, Ambon (1976-1978) pernah didudukinya, ia juga menjabat sebagai Sekretaris Umum Dewan Mahasiswa Unpatti (1974-1978) dan Pengurus KNPI Ambon (1977-1978).

Setelah lulus Unpatti (1968-1972), Alexander melanjutkan karier politiknya di Jakarta. Ia aktif di GMKI menjadi Sekretaris Bidang Pendidikan Kader PP GMKI (1978-1980), Ketua Bidang Pembinaan Anggota PP GMKI (1980-1982), Kepala Bidang External PP GMKI (1982-1984), dan Ketua Umum PP GMKI (1984). Di saat yang sama ia menerima jabatan pula sebagai Ketua DPP KNPI hingga tahun 1987. Periode 1987-1989, ia ini dipercaya sebagai Ketua DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), yang dilanjutkan dengan posisi Ketua Umum. Dari sinilah Alexander lalu disunting PDI Perjuangan, hingga memberinya jabatan penting sebagai Sekretaris Jenderal dalam dua periode sekaligus yakni 1993-1998 dan 1998-2000.

Catatan Rudi Fofid, Pemimpin redaksi Mimbar Rakyat, tentang  Alex Litaay, yang lansir dari Maluku Online :

SAYA duduk di barisan kedua dari belakang, di aula Hotel Wisata Internasional, Jakarta, akhir 1980an.  Sebagai mahasiswa usia 20-an tahun, saya tidak berani bicara di antara sekitar 600 orang hebat Maluku di Jabotabek, yang berkumpul dalam seminar Perspektif Kepemimpinan Masyarakat Maluku.

Menteri Pertahanan dan Keamanan L. B. Murdani menjadi pembicara kunci, dalam seminar yang penuh gelora, sebab semua ingin putera daerah menjadi Gubernur Maluku.  Maklum, setelah G. J.  Latumahina,  tak ada lagi orang Maluku jadi gubernur.

Sekum PP GMKI  Nus Liur bertanya kepada Murdani, mengapa orang Maluku tidak lagi dipercaya memimpin daerahnya sendiri.

“Satu orang gubernur di antara 26 provinsi di mata presiden adalah persoalan kecil.  Kalian pulang dululah selesaikan persoalan di Maluku.  Kalau kita menunjuk seorang Katolik di Langgur menjadi gubernur, apakah orang Ternate yang Muslim bisa terima?  Atau sebaliknya, kita angkat seorang Muslim Ternate menjadi Gubernur Maluku, orang Katolik di Langgur bisa terima?” Kata Murdani.  Suasana seminar jadi hening.

Setelah sesi pembicara kunci itu selesai, barulah Sekjen PP PMKRI Yos Rahawadan  mengkritik ucapan Murdani.  Menurut Rahawadan, Murdani mengatakan persoalan Gubernur Maluku adalah hal kecil karena dia menteri.

“Murdani sebut masalah kecil karena dia melihat dari Jakarta.  Dari Maluku, kami memandang hal ini sebagai persoalan besar,” ujar Rahawadan sambil membesarkan volume suara.

Rahawadan kemudian meminta tanggapan beragam pihak.  Satu tokoh yang diminta tanggapannya adalah Ketua DPP GAMKI Alexander Litaay.  Saya kaget, sebab orang bernama Alex itu duduk paling belakang, persis di belakang saya.  Inilah untuk pertama kali saya bertemu dengan pria bertubuh kecil yang duduk diam-diam saja di barisan paling belakang dan kurang mencuri perhatian peserta.

Enam tahun setelah perjumpaan itu, saya sudah menjadi wartawan di harian Suara Maluku.  Pemimpin Redaksi Etty Manduapessy dari Jakarta menelepon dan meminta Redaksi Suara Maluku mewartakan sebuah kabar baik.  Megawati yang dipilih menjadi Ketua DPP PDI memilih Alexander Litaay menjadi Sekretaris Jenderal, mendampinginya.

“Ini keadaan serba sulit.  Jadi, Megawati membutuhkan seseorang yang setia.  Alex itu orang Maluku dan sangat setia,” kata Manduapessy ketika menceritakan ihwal Megawati dipasangkan dengan Alex.

Manduapessy jualah yang membawa Sekjen PDI itu datang ke Ruang Redaksi Suara Maluku di Mardika.  Di dalam ruang redaksi, kami berdiskusi tentang demokrasi di Indonesia.  Alex berpendapat, salah satu ciri penting bagi Indonesia untuk dapat disebut demokratis adalah keadilan.

“Bagi Maluku, demokrasi adalah keadilan pemerintah pusat kepada Maluku.  Jika pusat belum berlaku adil kepada Maluku, maka Indonesia belumlah demokratis,” ujarnya  dalam diskusi tersebut.

Ketika Megawati sebagai Ketua Umum PDI berkunjung ke Saparua, hanya ada dua wartawan cetak yang mengikuti perjalanan tersebut.  Saya dan Max Aponno berboncengan ke Tulehu, lalu naik kapal feri menuju Saparua.  Di atas kapal feri, ada Megawati dan Alex Litaay,

Mangara Siahaan, dan para pentolan reformasi dari partai banteng.
Megawati disambut secara megah oleh warga Saparua, mulai dari pelabuhan Haria.  Mula-mula Megawati dan Alex didaulat masuk baileo Haria.  Di sana, Megawati dilantik sebagai Inalatu Maluku.  Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke Ullath, kampung halaman Alex.

Saya dan Max Aponno mendapat kesempatan makan siang di rumah Alex, duduk dekat Megawati.  Tapi acara paling penting adalah Megawati dan Alex dibawa ke dalam Baileo Ullath.  Di sana, Megawati dilantik lagi secara adat menjadi Inalatu Maluku, sedangkan Alex dilantik menjadi kapitan.

“Alex, terima parang ini sebagai kapitan, tugasmu adalah menjaga Megawati sampai mati,” kata pejabat adat yang memimpin pelantikan.

Dari Baileo,  Megawati dan Alex diarak ke gereja.  Pendeta dan jemaatpun mendoakan kedua politisi agar kelak mampu berjuang demi kepentingan rakyat.

Tampilnya Megawati sebagai sosok yang diharap membawa perubahan di Indonesia, telah mencemaskan Presiden Soeharto.  Tanda-tanda bahaya perlawanan rakyat sudah terlihat dengan keinginan adanya perubahan.  Ketika rakyat makin kritis, LSM dan mahasiswa kian gencar melakukan aksi,  terjadilah penculikan aktivis.  Demikian pula, posisi  Megawati diguncang prahara internal ketika kubu Soerjadi-Fatimah Ahmad menggelar KLB atas dukungan penguasa, menyebabkan DPP PDI pimpinan Megawati gagal ikut pemilu 1997.

Tapi ada peristiwa menarik yaitu, di tengah kasus penculikan aktivis, tiba-tiba Alex pun hilang dan dipastikan bahwa Alex diculik.  Pius Lustrilanang juga diculik dan mengalami penganiayaan, sedangkan Wiji Thukul hingga kini entah di mana rimba dan kuburnya.

Dalam suasana Alex tidak diketahui di mana gerangan, muncullah spekulasi bahwa Alex sedang mengalami proses penjinakan.  Dia diculik agar diajak bekerja sama dengan penguasa, dan meninggalkan Megawati.

Ada pendapat bahwa Alex tidak punya uang atau harta yang berlimpah.  Sebab itu, dia ditawari bertumpuk-tumpuk uang, asalkan rela meninggalkan Megawati.  Alex disangka banyak orang, bawa sebagai orang “kasiang-kasiang”, tentu akan tergoda dengan bayaran tinggi.

Saya bertemu Max Aponno.  Saya mengajukan pertanyaan sederhana.  “Apakah Om Max yakin Alex akan meninggalkan Megawati?”  Mendengar pertanyaan itu, Max Aponno menggeleng.

“Saya kira, tidak,” ujarnya.

“Kalau Alex itu lelaki Saparua sejati, anak adat, dia pasti pegang janji sebagai kapitan di Baileo Ullath, yang dikukuhkan oleh pendeta di gereja,” kata saya kepada Max Aponno.

Seminggu saja Alex disekap oleh “saudara-saudara” sendiri dan benar dirayu untuk meninggalkan Megawati, tapi Alex kembali dalam keadaan sehat walafiat.  Kisah penculikannya kemudian secara ekslusif diceritakan kepada harian Merdeka.  Harian Suara Maluku sudah memuat bagian pertama testimoni Alex, dan akan ada  sambung menyambung pada hari-hari berikut.

Ternyata, Alex mengajukan embargo.  Semua wawancara tentang penculikan itu dianggap tidak pernah ada.  Harian Merdeka menghormati ketentuan  embargo, sebagaimana diatur dalam kode etik jurnalistik.  Alex juga menelepon Suara Maluku dan memberi isyarat bahwa kisah penculikannya menjadi rahasia, oleh suatu alasan yang gawat.  Sebab kalau terus dimuat dan terbukalah aib para penculik, bisa jadi, hidup Alex justru terancam, lebih dari sekadar penculikan.

Alex dua periode menjadi Sekjen PDI dan PDI Perjuangan.  Dia terpilih menjadi anggota DPR RI.  Ketika Megawati menjadi presiden, orang menyangka Alex akan menjadi menteri, ternyata tidak.  Maka pada suatu ketika, berlangsung sebuah debat kandidat presiden di Gedung Pemuda, Ambon.

Rury Munandar mewakili Capres Megawati, sedangkan Ety Manduapessy mewakili Capres SBY.  Saling adu konsep terjadi, saling kritik tidak terhindar.  Saya menjadi orang terakhir yang meminta kedua kubu untuk saling memuji.

“Bagaimana kubu Capres Megawati memuji Capres SBY, dan kubu Capres SBY memuji Megawati?”

Munandar mengatakan, dirinya dua kali bertemu SBY sebagai Menko Polkam.  Dari dua pertemuan tersebut, menurut dia, SBY itu orang yang pandai berbicara.

Sebaliknya, ketika diberi kesempatan memuji Capres Megawati,  Manduapessy mengatakan, Megawati adalah benar-benar seorang anak Soekarno.

“Saya dekat dengan Megawati. Orangnya cerdas.  Sayang, dia mengkhianati kita di Maluku,” paparnya.

Pada kesempatan di luar debat itu, barulah saya mendapat konfirmasi dari Manduapessy bahwa dirinya sangat kecewa karena Alex yang sangat setia kepada Megawati, tidak diberi kepercayaan menjadi menteri.

Suatu ketika, Jafry Tahitu dari GMKI Cabang Ambon mengajak saya ke Ullath, dalam sebuah kegiatan antara GMKI dengan AMGPM Lease.  Saya memaparkan sebuah makalah bertajuk Saparua Di Tengah Gelombang Globalisasi.

Saya menyebut Saparua sebagai tanah air para wartawan, tanah air para dokter, tanah air para politisi dan birokrat, tanah air para guru, dosen, pendeta dan ustad.  Saparua adalah tanah air para pahlawan.

Seorang tokoh perempuan di Ullath menanggapi saya dengan agak kecewa. Katanya, semua pujian saya kepada Saparua, sia-sia saja.  Sebab banyak orang Saparua pergi sekolah dan dapat kerja di luar sana, tapi tidak kembali membangun Saparua. Sebab itu, Saparua tidak pernah maju-maju.

“Dari dolo sampe oras ini, bagini-bagini saja,” katanya.

Saya menjawab tokoh perempuan itu dengan mencontohkan Alex.  Kalau Alex kita ajak pulang kembali ke Saparua, mau jadi apa dia?  Berpolitik macam apa di Saparua.  Orang level Alex, harus tetap ada di sana.  Begitu juga dengan sosok-sosok lain pada berbagai lini.

“Saparua, pulau kecil ini, biarlah menjadi berkat bagi pulau-pulau lain di Maluku, di Nusantara, bahkan di dunia,” kata saya, mencoba memuaskan tokoh perempuan dan juga peserta seperti Steven Atihuta, Weslly Johannes, Ronny Tamaela, dan rekan-rekan seangkatannya.

Kabar berpulangnya Alex di Kroasia, membuat saya teringat kembali pada banyak kenangan, di antaranya yang saya kenangkan kembali dalam catatan ini.  Setidaknya, tesis saya bahwa Saparua menjadi berkat bagi pulau lain, telah dibuktikan sendiri oleh Alex dengan kesetiaannya.

Selamat Jalan Bung Alex.  Di tubuhmu yang kecil, tersimpan duniamu yang besar.

Mafia Blok Masela

Mafia Blok Masela
Meski seluruh elemen masyarakat Maluku secara sangat tegas menolak metode offshore (di laut) terhadap rencana proyek pembangunan Kilang Gas Blok Masela, namun Sudirman Said selaku menteri ESDM tetap berkeras dan ngotot menginginkan metode offshore. Akibatnya, suara kedaulatan masyarakat Maluku pun merasa disepelekan.

Terbongkar, Kengototan Geng Kuntoro di Blok Masela

Dengan ditemukannya Blok Masela, kini menjadi primadona untuk diperebutkan oleh orang-orang rakus di era sekarang. Blok Masela adalah Blok Gas Abadi, yang terletak di Maluku Tenggara. Masyarakat dikejutkan dengan pengucuran uang bernilai besar dari Inpex Masela kepada firma konsultan Tridaya Advisory milik Erry Riyana Hardjapamekas, sahabat Menteri ESDM Sudirman Said yang sama-sama pendiri Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI).

Mengembalikan Daulat Negeri Maritim

Blok MaselaBeberapa waktu yang lalu saya mendapatkan kehormatan untuk menghadiri sebuah Focus Group Discussion (FGD) tentang upaya membangun dunia kemaritiman di Maluku. Diskusi tersebut dihadiri oleh Gubernur Maluku, Wakil Ketua DPD RI Ibu Ratu Hemas beserta empat anggota DPD RI asal Maluku dan sejumlah ahli politik, ekonomi, kebudayaan dan tentu saja tidak ketinggalan para ahli kelautan dari Universitas Pattimura Ambon.